Berhutang Boleh, Tapi Ukur Kemampuan Bayarnya Ya!

Spirit of Millennials

Punya penghasilan, tapi kebutuhannya tinggi. Mau ini dan mau itu. Solusinya? Berhutang? Duh, kalau bisa jangan deh.

Hutang yang umumnya dialami milenial disebabkan ingin mengikuti gaya hidup yang sebenarnya belum dapat dijangkau. Hutang dalam konteks ini dijadikan jalan pintas daripada harus bekerja ekstra, menabung, atau tidak selalu mengikuti tren yang hype.

Mudah-mudahan belum mewabah di Indonesia. Sebab menurut data dari Northwestern Mutual’s 2018 Planning & Progress Study, generasi milenial usia 18 – 34 tahun punya hutang terbanyak sepanjang 2018. Tercatat milenial punya hutang sekitar USD 32 ribu atau setara Rp 448,95 juta. Jumlah ini belum termasuk hutang kredit rumah.

CreditCards.com pun melansir kalau ada 60 persen generasi milenial berhutang dan ngga tahu kapan hutang tersebut akan lunas. Berdasarkan data itu pula, umur milenial yang terjebak hutang kartu kredit berkisar 18 – 30 tahun. Rata-rata jika ditanya (berdasarkan jawaban questioner) mereka berharap bisa bebas hutang di usia 43 tahun.

Hutang bukan berarti hukuman seumur hidup atau akhir dunia kalau ngga sanggup membayarnya. Kamu cukup tahu cara mengelolanya. Karena ada beberapa trik melunasi hutang jika kamu memang terlanjur punya hutang.  

Kamu bisa mencari kerja sampingan, jika menggunakan gaji pokok untuk membayar utang akan terasa memberatkan. Usahakan mendapatkan pekerjaan sampingan yang dapat membantu meringankan beban cicilan hutang.   

Berhemat serta membuat list dan skala prioritas kebutuhan yang akan dikeluarkan. Cara ini jika dilakukan dengan disiplin akan membantu kamu meskipun sedang mempunyai kasbon. Nah, yang terakhir menentukan jangka waktu pinjaman. Atur sebaik mungkin jangka waktu pinjaman agar angsuran bulanannya tak memberatkanmu.

Well, ngga ada salahnya sih kasbon asal jelas tujuannya. Tapi perlu diingat selalu bijak saat memutuskan dan mengembalikan hutang agar hidupmu engga ribet, ya.