Celah Bisnis Dalam Budaya Thrift Shopping

Spirit of Millennials

Kaum Milenial dan Generasi Z pasti udah ngga asing lagi sama yang namanya thrift shopping, dong? Yap, belanja baju atau barang – barang preloved lainnya lagi nge-hype banget, nih, sekarang. Sejak tahun 2013, perdagangan pakaian secondhand, mulai dari barang langka, brand independen, sampai brand top notch sekalipun udah jadi komoditas incaran para thrift shopers. Intinya, apapun barang atau mereknya, selama barang tersebut masih layak dan berkualitas, pasti bakalan disabet sama mereka.

Ditambah saat ini pakaian bukan cuma kebutuhan primer aja, tapi juga udah jadi bagian dari gaya hidup, termasuk buat mempercantik konten di media sosial. Nah, seiring dengan semakin membudayanya kegiatan ini, kamu bisa banget memanfaatkannya untuk membangun usaha sendiri.

Pasti ada, dong, pakaian dan baju- baju kamu yang masih dalam kondisi bagus, bersih, bahkan mungkin belum pernah kamu pakai sekalipun? Itu semua bisa kamu jadikan sebagai barang dagangan untuk memulai usaha thrift shop di bidang fashion. Atau, kalau kamu punya modal awal yang cukup besar, kamu bisa bikin thrift store sekalian.

Tapi untuk memulai bisnis ini, sekedar memiliki komoditas utamanya aja belum cukup, lho. Kamu juga harus punya marketing skill yang mumpuni dan bisa menggunakannya secara optimal, supaya bahan – bahan jualan kamu juga laku di pasaran dan tetap bisa bersaing dengan thrift store lainnya di kemudian hari.

Maka dari itu, ada baiknya juga kalau kamu mulai mempertajam dan memperluas wawasan kamu di bidang fashion dan industrinya. Karena bisnis yang satu ini juga ngga ada matinya. Udah gitu, kamu ngga perlu modal gede, tapi bisa dapetin keuntungan yang lumayan banget. Dan ternyata ngga cuma kita – kita aja, selebritis juga banyak banget yang doyan thrift shopping, lho!