Fenomena Golput di Kalangan Milenial, Kenapa Sih?

Spirit of Millennials

Pemilu 17 April 2019 jadi pemilu ke-12 yang udah dilakuin sejak 1955 lalu. Meski unik karena kali ini Indonesia lagi punya bonus demografi yang ngga kecil, kita juga dihadapin sama ancaman fenomena golput, nih.

Bonus demografi itu adalah kalangan kita, generasi milenial. ┬áBerdasarkan data LIPI Desember 2018 lalu, pemilih milenial berjumlah 80 juta jiwa atau 35% – 40% dari jumlah total pemilih yang diperkirakan 185.732.093 jiwa.

Dengan jumlah yang besar banget, milenial diharapkan bisa bawa transformasi untuk Indonesia, secara kualitatif jadi penanda demokrasi yang cerdas.

Tapi, berdasarkan data DPP Fisipol UGM bulan Februari lalu, pada 27 Januari – 19 Februari muncul 2.840 percakapan soal golput dari kalangan milenial di media daring dan media sosial, dan 269 di antaranya langsung berisi ajakan langsung.

Total ada 75% – 80% milenial aktif dan produktif membicarakan tentang golput. Di Jawa Barat ada 21,60%, DKI Jakarta 14,94%, Jatim 14,64%, Jateng-Yogyakarta 9%, dan daerah lain 1%.

Berdasarkan data BPS dan survei CSIS, milenial sekarang ini jadi pengguna internet dan media sosial paling besar. Makanya kalau golput datangnya dari kalangan milenial sayang banget karena justru berbarengan dengan peningkatan kecerdasan dan gampangnya akses informasi saat ini.

Soal sosio-politik, milenial punya jaringan luas, bebas dan tanpa batas. Kebebasan itu dikhawatirin malah bikin kita ngga punya kepatuhan ideologi dan instruksi politik tertentu, penuh pertimbangan dan susah percaya elite politik.

Walau memang zaman sekarang makin susah untuk percaya sesuatu, generasi golput bakal ngelahirin generasi pesimistis dan apatis buat demokrasi. Padahal, masa depan demokrasi Indonesia ada di tangan generasi kita.

Nah, kamu sendiri gimana, mau ikut milih atau ikut gerakan yang bisa ngerugiin kita semua? Yuk, jadi penegak demokrasi Indonesia sekaligus berkontribusi buat kehidupan sebagai warga negara!