Keren, Garuda Indonesia Kirim Barang Pakai Drone

Spirit of Millennials

Teknologi drone sebagai navigasi dan transportasi udara sudah dikenal lekat di dunia militer. Untuk diterapkan ke umum, nanti dulu. Sebab teknologi aviasi saat ini masih mengandalkan skill manusia sebagai pengendali langsung. Untuk memulai penggunaan drone sebagai transportasi udara, PT Garuda Indonesia (Persero) akan mulai mengoperasikan pesawat udara tanpa awak untuk bisnis kargonya yang pada 2020 nanti akan dioperasikan.

Bulan November 2019, uji coba pesawat udara tanpa awak atau drone (unmanned aerial vehicle/UAV) untuk bisnis kargonya memasuki masa uji coba yang akan dilakukan perdana di Aceh pada bulan November. Uji coba tersebut akan melibatkan Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU).

Melansir tempo.co (10/19), dalam diskusi bertajuk ‘Menata Drone di Langit Ibu Pertiwi, di Hotel Morrisey, Jakarta pada 22 Oktober 2019, Direktur Kargo dan Pengembangan Bisnis Garuda Mohammad Iqbal mengatakan bahwa mereka akan trial selama 3 bulan dulu untuk mempelajari risiko dan uji kelayakan DKUPPU.

Di masa uji coba, drone yang dimaksud akan mengangkut beban kargo 500 kilogram kurang dengan jarak jangkau maksimum 1.200 kilometer, berkecepatan rata-rata 300 kilometer per jam. Uji coba perdana dilakukan dari Jakarta ke Aceh. Selanjutnya akan diuji coba ke wilayah lain, yakni Maluku, Maluku Utara, hingga Manado.

Wilayah penerbangan tersebut dipilih karena punya potensi sumber daya alam yang melimpah seperti perikanan dan lain sebagainya, tapi terkendala angkutan logistik. Drone kelak akan mengangkut ikan hidup yang punya waktu maksimal 14 jam agar tetap segar.

Di 2020, Garuda Indonesia berencana punya 10 unit drone untuk angkutan logistik. Armada tersebut akan diberi nama “Frighter” untuk mengangkut barang kebutuhan pokok hingga produk-produk e-commerce. Bahkan ke depan, harapan adalah Garuda Indonesia dapat membangun sistem logistik mengantar barang dari Sabang sampai Merauke.

Di Indonesia, kebutuhan kargo atau pengiriman logistik mengalami peningkatan hingga 11 persen per tahun. Pertumbuhan tersebut didominasi oleh pengiriman barang e-commerce yang meningkat volumenya lebih dari 50 persen per tahun. Pesawat “Frighter” diharapkan bisa mendukung peningkatan layanan tersebut dan bahkan terbilang efisien. Pesawat tersebut pun disinyalir memangkas biaya logistik sebesar 30 persen dan menghemat waktu tempuh pengiriman yang semula 2-4 hari menjadi 24 jam.

Selain “Frighter” bakal terbang tahun depan, Garuda Indonesia sekaligus telah mempersiapkan aplikasi Tauberes, yakni aplikasi layanan kargo udara untuk tetap terhubung dengan agen pengiriman barang. Menurut Iqbal, Tauberes ini akan menjadi platform kolaborasi antara maskapai dengan JNE, JNT, bandara, Bulog, Angkasa Pura I dan II, Lion Parcel, dan lain-lain.