Setelah 26 Tahun Mati Suri, PFN Bangkit Lagi

Spirit of Millennials

Perum Produksi Film Negara (PFN) sempat berjaya di era 1970 sampai 1990-an. Berbagai produksi film buatannya pun menjadi tayangan penuh nostalgia bagi para pemirsa di masa tersebut. Vakum berproduksi hingga 26 tahun lamanya, PFN akhirnya bangkit kembali pada tahun ini untuk menjawab tantangannya sebagai BUMN yang profitable.

 

Rencananya, PFN bakal memproduksi 20 film yang ditargetkan rampung pada tahun 2023 dengan perolehan pendapatan di kisaran Rp200 miliar. Film-film yang dipersiapkan untuk diproduksi di antaranya berjudul “194”, “Hoegeng”, “Kairo – Tiga Sahabat Menggali Dunia”, “Saimar”, “Si Unyil The Movie”, “Lima Menerjang Badai”, “Sang Timur Jauh”, “Akad”, “Layar Terkembang”, serta “Sabai dan Aluih”.     

 

Menurut Direktur Pemasaran PFN Elprisdat, untuk memenuhi dana produksi per film bisa menghabiskan rata-rata Rp5 miliar. Artinya, dibutuhkan dana sebesar Rp100 miliar untuk memproduksi 20 film. “Kalau saya pikir akan double sampai Rp200 miliar,” ujarnya saat ditemui di Gedung Kementerian BUMN, Selasa (15/10).

Sumber dana tersebut bisa didapatkan melalui sponsor maupun pinjaman perbankan. Menurutnya lagi, PFN sebagai BUMN punya kemewahan tersendiri karena bisa bekerjasama dengan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk mendapatkan pembiayaan. Sedangkan sponsorship rencananya akan bersinergi dengan lembaga pemerintahan dan swasta, di antaranya PT Indonesian Tourism Development Corporation, PT Balai Pustaka, dan PT Ideosource, Dante Sinema

 

Meskipun demikian, tak bisa dimungkiri bahwa masih ada beberapa pihak yang pesimis soal bangkitnya produksi PFN. Hal ini disebabkan oleh perubahan fungsi PFN. Di masa lalu PFN adalah perpanjangan tangan pemerintah. Tapi zaman sudah berubah, PFN harus sanggup membiayai dirinya sendiri tanpa mengandalkan subsidi seperti biasanya. “Kami akan tetap menjaga integritas sedalam-dalamnya agar masyarakat percaya dan bisa mengandalkan produk PFN,” kata Direktur Utama PFN Judith J. Dipodiputro.

 

Sekedar info saja, PFN sendiri didirikan 6 Oktober 1945, tahun yang sama ketika Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan. Setelah proklamasi, PFN jadi salah-satu garda untuk propaganda kemerdekaan RI agar dikenal luas dan mendunia. 

 

Menggunakan peralatan pampasan perang yang kemudian menjadi aset negara, PFN pada masa 1970 – 1998 menjalani dua fungsi; komersial dan publikasi pemerintah. PFN ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor Tahun 1998 sebagai lembaga yang turut serta membangun ekonomi dan ketahanan nasional dengan cara mendukung pengadaan film yang bermutu dan bernilai pendidikan, juga harus mampu mengangkat budaya nasional.