Smart Farming, Masa Depan Agrikultur Indonesia

Spirit of Millennials

Perpindahan model jualan offline ke online di era brick to click ini udah numbangin beberapa toko-toko besar di Indonesia. Tren ekonomi dan pasar yang berubah kalau terlambat disiasati bisa berdampak besar ke pengelolaan usaha di masa depan. Nah, industri dan perdagangan pertanian pun mesti siap-siap!

Sekarang selisih harga di pasar dan harga di petani udah terlalu jauh. Produk pertanian makin mahal karena supply chain yang panjang. Belum lagi tertutupnya informasi yang bikin permainan harga rentan terjadi. Muncullah konsep smart farming yang tujuannya memanfaatkan teknologi digital dari mulai tingkat korporasi hingga petani. 

Digitalisasi bisa ngebantu pengusaha untuk mengelola bisnisnya. Misalnya, pelaku usaha bisa pakai bank DNA online untuk mendokumentasikan profil tanaman, memperkirakan jumlah pupuk dan pestisida nabati, menggunakan drone untuk pemupukan dan penyiraman, hingga mengendalikan traktor dari jarak jauh. 

Selain itu, teknologi juga bisa digunakan untuk menandai lokasi lahan, mengukur kandungan tanah sampai menggelar lelang dan jual-beli komoditas pertanian atau peternakan secara online.

Jadi, smart farming itu bisa diterapkan di pertanian dari hulu sampai hilir guys. Tujuannya ya untuk peningkatan produktivitas, menghasilkan produk sehat, dan memastikan pemanfaatan sumber daya berkelanjutan juga berdampak sosial. 

Sementara itu, di pihak konsumen dan pembuat regulasi pertanian, smart farming membantu menciptakan standar operasional berupa sertifikasi ramah lingkungan, produk sehat, dan sertifikasi dampak sosial, yang penerapan dan kontrolnya berbasis teknologi digital.

Mau ngga mau petani sekarang harus familiar dengan perangkat digital. Kalau pelakunya adalah orang tua, maka anak mudanya yang harus memandunya. Lebih bagus lagi kalau anak muda melanjutkan pertanian modern yang terdigitalisasi. Yuk, kita siap-siap buat nerapin smart farming!